Minggu, 23 Juni 2013

Benda-Benda Pusaka

Perawatan Benda-Benda Pusaka

Salah satu kegiatan Lembaga Adat Roso Sejati yang pengelolaannya dan pengerjaannya dalam bagian program kerja Dewan Adat.
Acara Pembersihan dan perawatan benda-benda Pusaka oleh Dewan Adat, dan acara ini di selenggarakan setiap hari selasa kliwon dan jum'at kliwon setiap bulannya. Acara ini telah berlangsung puluhan tahun, dan selalu dilaksanakan dengan dasar kecintaan pada Adat Budaya Nusantara dan  secara mandiri.
Beberapa diantara benda-benda pusaka tersebut di antarkan oleh para ahli waris atau pemilik untuk di rawat. Kebanyakan diantara benda-benda tersebut berusia ratusan tahun.
 
Keris adalah senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali
bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris adalah badik. Senjata tikam lain asli Nusantara adalah kerambit.
Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan,[1] sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.
Penggunaan keris tersebar pada masyarakat penghuni wilayah yang pernah terpengaruh oleh Majapahit, seperti Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan (Mindanao). Keris Mindanao dikenal sebagai kalis. Keris di setiap daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta peristilahan.




















Dilihat pada bentuk lapisan demi lapisan struktur keris,  serat-serat lapisan logam, dan dilihat dari  kontur sidik jari pada permukaan beberapa keris, diperkirakan keris-keris tersebut butan tangan sang empu.


















Keris sebagai bagian dari adat dan budaya nusantara adalah keapikan, kearifan budaya. tidak hanya berfungsi sebagai senjata, tapi keris mampu menunjukkan identitas, silsilah, dan tingkat kewibawaan pemiliknya. Namun dalam perjalanan waktu yang panjang keindahan budaya senjata nusantara seringkali disalah tafsirkan (sengaja disalah tafsirkan) sebagai budaya pagan (penyembah berhala) atau sirik karena menyembah benda-benda tersebut. 
Pada dasarnya tidak sama sekali, perawatan, kecintaan terhadap apa yang menjadi milik kita, adalah kenyataan logis dari sifat dasar manusia. sebagai mana juga ladang, ternak, alat bertani, hewan peliharaan, dan apapun yang menjadi milik dan tanggung jawab kita pasti kita rawat. lalu kenapa hanya sebatas perawatan kepada keris menjadi salah tafsir.?, padahal setiap manusia pasti harus merawat miliknya dan tanggung jawabnya.
demikianlah kearifan budaya nusantara, bahkan senjata yang kita miliki saja harus dirawat dan di cintai, terlebih lagi pastinya terhadap diri kita sendiri.
Terpelihara dari sifat buruk, perbuatan buruk dan selalu menjaga dalam kondisi terbaik adalah bagian dari pembelajaran yang di berikan dari perawatan benda-benda pusaka.















Salah satu benda pusaka yang terabaikan yang diserahkan oleh pemiliknya kepada Lembaga Adat Roso Sejati untuk dirawat.




















Komentar Facebook
0 Komentar Blogger

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar